Takdir mempertemukan kami bukan lewat doa yang disengaja, melainkan melalui sahabat yang sama. Saat itu, tak ada rasa tertarik, tak ada degup yang berlebihan, hanya sapa biasa dan senyum seperlunya. Kami bertemu tanpa harapan, tanpa prasangka, tanpa niat saling memiliki. Namun siapa sangka, dari rasa yang “biasa saja” Tuhan perlahan menumbuhkan cerita, mengajarkan bahwa cinta tak selalu datang dengan gegap gempita, kadang ia hadir diam-diam lalu menetap selamanya.