Pertemuan pertama kami terjadi bertahun-tahun lalu, ketika kami masih duduk di bangku MTs—masa ketika dunia terasa sederhana, namun diam-diam menyimpan banyak cerita tak terduga. Kami ditempatkan di kelas yang sama, dan di sanalah segalanya bermula. Pada suatu pagi yang biasa, tanpa tanda atau alasan apa pun, pandanganku tertuju padanya… dan entah bagaimana, hatiku seperti menemukan sesuatu yang selama ini tidak pernah kusadari aku cari. Ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku terdiam sesaat—caranya tersenyum, tatapan matanya yang jernih, tutur katanya yang lembut. Semua itu seakan menjelma menjadi potongan-potongan kecil yang membentuk gambaran tentang seseorang yang selalu aku harapkan hadir dalam hidupku. Tanpa perlu banyak waktu, aku jatuh hati. Namun jatuh hati yang kupendam sendirian. Jatuh hati yang tidak pernah kuterjemahkan menjadi kata-kata. Tiga tahun di MTs terasa seperti perjalanan panjang yang penuh rasa namun tanpa keberanian. Aku menyukainya, tapi hanya aku yang tahu. Perasaan itu kusimpan rapi di sudut hati yang hanya bisa kusentuh diam-diam. Setiap kali kami berbincang—meski hanya tentang pelajaran, tentang tugas, atau hal-hal sepele yang selalu cepat hilang dari ingatan—aku merasakan kebahagiaan yang sederhana namun begitu dalam. Rasanya seperti berada di dekat matahari: hangat, namun tak pernah berani benar-benar mendekat. Hingga akhirnya masa MTs berakhir. Kami melanjutkan ke SMA yang berbeda, memasuki dunia baru yang perlahan menjauhkan kami. Kami tak lagi bertukar kabar, bahkan sekadar sapaan sederhana pun tak pernah terjadi. Waktu berjalan, dan tanpa kusadari aku mulai terbiasa dengan hening itu—hening yang awalnya menyesakkan, namun lama-lama menjadi ruang kosong yang mau tak mau harus kuterima. Namun hidup memiliki cara yang ajaib untuk mempertemukan kembali apa yang sempat menjauh. Satu tahun setelah kami lulus SMA, tepatnya di tahun 2019, sebuah pesan muncul di layar ponselku. Namanya—yang dulu sangat akrab dalam hatiku, kini muncul kembali setelah sekian lama tak terdengar. Sejenak aku tertegun. Ada rasa kaget, bahagia, dan getir yang bercampur jadi satu. Pesannya sederhana: ia mengajakku menghadiri reuni MTs dan buka puasa bersama teman-teman lama. Namun bagiku, pesan itu terasa seperti pintu kecil yang menghubungkan kembali dua dunia yang sempat hilang kontak. Membaca pesannya, aku merasakan sesuatu yang lama tak muncul—denyut halus yang dulu pernah kurasakan setiap kali melihatnya. Rasanya seperti masa lalu mengetuk kembali, membawa aroma kenangan yang pernah kutinggalkan. Dan dari momen sederhana itu, perlahan-lahan sebuah cerita lama mulai membuka lembarannya kembali. Seakan semesta memberi kesempatan kedua bagi dua hati yang pernah berjalan beriringan tanpa pernah benar-benar bersentuhan. Tanpa kusadari, ajakan itu bukan hanya tentang reuni. Bukan hanya tentang bukber. Itu adalah awal dari kedekatan kami yang kembali tumbuh—pelan, hangat, dan penuh harapan. Awal dari cerita yang dulu tertunda, namun ternyata masih menyisakan ruang untuk dilanjutkan.